Wakil Ketua Umum DPP KNPI: Jangan Biarkan Provokasi Memecah Persaudaraan Indonesia

JAKARTA – Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI), Riswan Karto, S.Kom., CH., CHT., menyampaikan keprihatinan mendalam atas bentrokan yang terjadi di kawasan Matraman. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya kalangan pemuda, untuk tidak terjebak dalam narasi yang berkembang di media sosial yang berupaya menggiring peristiwa tersebut menjadi konflik antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat.

Menurutnya, konflik yang melibatkan oknum tertentu tidak boleh digeneralisasi menjadi konflik antarsuku, antardaerah, ataupun antarkelompok masyarakat. Indonesia telah memiliki pengalaman panjang dalam menjaga keberagaman, sehingga setiap persoalan hukum harus diselesaikan berdasarkan fakta dan proses hukum, bukan berdasarkan sentimen identitas.

“Kesalahan individu adalah tanggung jawab individu. Jangan pernah menghakimi satu suku, satu daerah, atau satu komunitas karena ulah segelintir orang. Ketika kita mulai memberi stigma kepada sebuah kelompok, saat itulah persatuan bangsa sedang dipertaruhkan.”
Riswan menegaskan bahwa bangsa Indonesia dibangun di atas semangat Bhinneka Tunggal Ika, bukan atas dasar kesamaan suku maupun asal daerah. Oleh karena itu, masyarakat diminta lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar, terutama potongan video maupun narasi yang belum terverifikasi dan berpotensi memicu kebencian.

Sebagai putra Banda Naira dengan darah dari orang tua(Banda Naira, Maluku Tenggara, Jawa & Sulawesi) yang juga memiliki keluarga besar Betawi, Riswan menilai keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan realitas kehidupan yang harus terus dirawat.
“Saya berasal dari Indonesia Timur dengan darah campuran dari orang tua (Banda Naira, Maluku Tenggara serta Jawa & Sulawesi) dan istri saya berasal dari Betawi. Dalam keluarga kami tidak ada Indonesia Timur dan Indonesia Barat. Yang ada adalah keluarga Indonesia. Jika dalam satu keluarga perbedaan dapat menjadi kekuatan, maka bangsa ini pun harus mampu menjadikan keberagaman sebagai perekat persatuan.”
Wakil Ketua Umum DPP KNPI itu juga mengingatkan bahwa media sosial tidak boleh menjadi ruang yang memperluas konflik. Pemuda justru harus menjadi pelopor dalam menyebarkan pesan damai, menolak provokasi, serta menjaga ruang publik tetap sehat dan produktif.

KNPI mengajak seluruh organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama meredam situasi dan tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang ingin memecah belah persatuan nasional.
“Indonesia tidak akan menjadi kuat jika kita terus mempertentangkan Timur dengan Barat, mayoritas dengan minoritas, atau suku dengan suku. Kita semua lahir dari tanah air yang sama, hidup di bawah Merah Putih yang sama, dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan bangsa.”
Di akhir pernyataannya, Riswan mengajak seluruh pemuda Indonesia menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas kebangsaan.

“Jangan wariskan kebencian kepada generasi berikutnya. Wariskan teladan bahwa ketika bangsa ini diuji, pemuda memilih berdialog, merangkul, dan menjaga persatuan. Tidak ada Indonesia Timur atau Indonesia Barat ketika Merah Putih berkibar. Yang ada hanyalah Indonesia.”

— Riswan Karto, S.Kom., CH., CHT.
Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *