DETIKINSIDE.COM — DPD I KNPI DKI Jakarta menilai insiden di kawasan Ancol yang mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan minuman keras tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan hukum. Peristiwa tersebut dinilai menjadi alarm bagi masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga etika dan tanggung jawab dalam berekspresi.
Ketua Umum DPD I KNPI DKI Jakarta, Ferawati, S.H., menegaskan bahwa kreativitas harus tetap memiliki batas ketika bersinggungan dengan nilai agama dan keyakinan masyarakat.
“Menyikapi insiden di Ancol, kami atas nama DPD KNPI DKI Jakarta menegaskan bahwa kitab suci bukan bahan komoditas, dan keimanan bukan objek candaan,” kata Ferawati dalam keterangannya, Jumat (14/8/2026).
Menurut Ferawati, mengaitkan ayat Al-Qur’an dengan minuman keras tidak dapat dibenarkan hanya dengan alasan kreativitas atau konsep promosi. Ia menilai persoalan tersebut menyentuh aspek yang lebih mendasar, yakni sensitivitas moral dan etika dalam menggunakan simbol-simbol keagamaan di ruang publik.
“Menukar ayat Al-Qur’an dengan minuman keras bukan lagi soal kreativitas yang kelewat batas, melainkan runtuhnya sensitivitas moral dan etika,” ujarnya.
Ferawati mengatakan KNPI DKI Jakarta mendukung penuh langkah Polda Metro Jaya dalam memproses hukum para tersangka. Namun, ia menilai proses hukum harus berjalan beriringan dengan evaluasi terhadap budaya kreativitas dan promosi di ruang publik.
“Kami mendukung penuh ketegasan Polda Metro Jaya dalam memproses hukum para tersangka,” katanya.
Ia menegaskan, kasus tersebut seharusnya menjadi momentum bagi seluruh pihak, termasuk pelaku industri kreatif dan hiburan, untuk memahami bahwa kebebasan berekspresi selalu memiliki konsekuensi sosial.
Menurutnya, kreativitas tidak seharusnya dipertentangkan dengan nilai moral. Justru, kreativitas yang sehat harus mampu berjalan bersama tanggung jawab, kepatutan, dan penghormatan terhadap keberagaman masyarakat.
“Peristiwa ini adalah alarm keras bagi kita semua. Jakarta tidak boleh kekurangan pemuda yang kreatif, tetapi Jakarta jauh lebih butuh pemuda yang beradab,” tegas Ferawati.
KNPI DKI Jakarta mendorong agar kasus tersebut tidak berhenti sebagai polemik sesaat. Organisasi kepemudaan itu berharap peristiwa tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk membangun ekosistem kreatif di Jakarta yang tetap memberikan ruang bagi kebebasan berekspresi, tetapi menghormati nilai agama, norma sosial, dan kepentingan masyarakat.
Ferawati menilai generasi muda memiliki peran penting dalam membangun budaya tersebut. Menurutnya, keberanian untuk berkarya harus diikuti keberanian untuk bertanggung jawab atas karya yang dihasilkan.
“Pemuda harus menjadi generasi yang mampu membedakan antara keberanian berekspresi dan tindakan yang justru melukai nilai yang dijunjung masyarakat,” pungkasnya.








