SHE (Spiritual Holistic Education)

Penulis: Prof. Asep Saefuddin – Rektor UICI/Guru Besar IPB

Setelah saya menulis SHE di Media Detik ini, tidak sedikit yang menanyakan apa esensi SHE ini. Untuk itu saya coba paparkan secara umum.

Spiritual berkaitan dengan dimensi rohaniah, jiwa, dan batiniah yang menjaga seseorang untuk terus semangat, spirit kehidupan. Adapun holistik berkaitan dengan keutuhan, kesatuan, sesuatu yang tidak terpisahkan. Jadi manusia yang utuh, “as a whole human being”, atau kaffah jadi manusia seutuhnya. Adapun pendidikan (education) adalah ekosistem yang menjadikan SHE itu terwujud.

Dalam pandangan SHE, pendidikan bukan sekedar sebuah sistem persekolahan atau perkuliahan yang padat dengan aspek kurikulum, ukuran-ukuran dan ranking keberhasilan capaian pembelajaran yang terlalu berbasis kognitif akademik. Konsep pendidikan kontemporer ini, selain sulit mengejar ketertinggalan, juga destruktif terhadap sifat-sifat kemanusiaan yang utuh. Pola ini tidak membangkitkan aspek kuriositas para siswa. Unsur kreativitas dan inovasi manusia tidak berkembang, walaupun secara kognisi atau aspek memori sangat kuat. Tetapi ingat, kecerdasan model ini akan digantikan oleh AI (Artificial Intelligence) dan tenaga kerja asing. Ujung-ujungnya para lulusan menjadi pengangguran intelektual. Lalu, kita berontak terhadap berbagai kebijakan negara. Padahal persoalan mendasar berada pada konsep pendidikan yang salah. Terlalu parsial, tidak membangun berbasis aspek spiritual, kehilangan aspek imajinasi, intuisi, persepsi, kemauan selain rasio dan memori.

Memang komponen kognisi yang dinilai berbasis kuantitatif ini terlihat obyektif dan paling mudah dibuat kurikulum dan akreditasi. Tetapi dampaknya sangat fatal terhadap peradaban kemajuan manusia itu sendiri. Sebagai outcome bisa kita lihat dari skor PISA yang rendah serta tenaga kerja sekolah SD dan SMP. HOTS (Higher Order Thinking Skill) masih jauh. Apalagi kekuatan riset dan ekonomi berbasis inovasi tentu masih jauh dari harapan. Ini sangat menyedihkan sekaligus mengerikan.

Manusia Makhluk Multidimensi

Secara umum manusia itu punya hati, punya otak, dan punya badan. Ketiga komponen itu adalah satu kesatuan yang harus didekati secara holistik. Keutuhan itulah yang harus dipahami dalam sistem pendidikan. Pertama dan paling utama harus memahami ini adalah para guru, termasuk dosen. Jadi menurut SHE, peran guru/dosen itu sangat vital. Sehingga mereka harus fokus untuk kepentingan siswa (termasuk mahasiswa). Wajar bila gaji mereka di negara-negara maju itu mencakup untuk kebutuhan sekunder dan bahkan tertier. Sehingga mereka alokasikan waktu dan energinya untuk pendidikan. Berbeda dengan keadaan kita di Indonesia, guru dianggap profesi dengan biaya rendah, bahkan sangat rendah. Di negara Kanada, Taiwan dan Jepang yang saya tahu, guru mendapat tempat sangat terhormat. Mereka paham bahwa tanpa guru yang baik, makan pendidikan akan berantakan. Bila pendidikan hancur akan SDM anjlok. Bila SDM rusak, walaupun negara itu kaya SDA, pasti akan hancur dan terjajah oleh negara lain yang SDMnya prima. Coba saja saksikan. Bila guru masih dianggap profesi (dan sayangnya dengan salary yang rendah), sulit pendidikan kita mendapat posisi terhormat. Saya sendiri menyarankan sebaiknya tidak disebut profesi tetapi mereka mendapatkan penghasilan yang memadai untuk kebutuhan primer, keperluan kesehatan, biaya pendidikan putra putrinya sampai S1, pelatihan, peningkatan strata keilmuannya, dan kebutuhan leisure time mereka.

Berdasarkan kenyataan itu, pemerintah Indonesia didukung oleh legislatif dan yudikatif sudah waktunya menjalankan SHE untuk SDM masa kini dan mendatang. Para peserta didik harus mempunyai fondasi spiritual yang kokoh. Disusul dengan kecerdasan kemanusian yang holistik, bukan sekadar kecerdasan kognitif. Mr. Huang, pendiri perusahaan Nvidia, mensinyalir definisi kecerdasan yang terlalu di tataran memori dan rasio itu akan berubah. Sebab tipe kecerdasan intelektual itu mulai digantikan oleh AI, kecerdasan buatan.

Keunikan manusia yang ada kelebihan atau kekurangan dalam aspek kecerdasan, tidak bisa dinafikan. Pendidikan yang terlalu terpaku pada kecerdasan kognitif yang mudah diukur, bisa jadi bahkan merusak masa depan seseorang. Kareena apa?. Karena dunia semakin kompleks, ambigu, volatil, dan nonlinear. Sehingga pendekatan pendidikan linier kognitif yang kurang memfasilitasi kreativitas dan inovasi, akan menghasilkan lulusan yang sulit menghadapi kenyataan. Bisa-bisa mereka frustasi dalam menghadapi kenyataan. Karena dunia kerja pun sudah diisi orang asing bahkan AI.

Manusia yang multidimensi ini tentu mengandung dimensi kognitif, emosi, fisik, sosial dan spiritual yang saling mengisi. Semuanya harus dilatih tidak dibatasi oleh satu sisi saja. Sehingga ada olah otak, olah rasa, dan olahraga. Saat ini pendidikan terlalu terjebak pada ukuran-ukuran kuantitatif dan obyektif. Komponen kualitatif dan subjektif kurang mendapat perhatian. Pendekatan ini cenderung membuat peserta didik kurang bergairah dalam mencari ilmu. Pendekatan pendidikan yang terlalu transaksional akan membuat aspek imajinasi, intuisi, keinginan dan persepsi yang sangat penting bagi inovasi dan kreativitas itu kurang mendapat tempat. Pendekatan terlalu objektif membuat dua tokoh dunia ilmu seperti Einstein dan Edison saja terlempar dari dunia pendidikan. Untung mereka selamat sehingga diakui dunia sebagai manusia jenius dengan penemuan yang menakjubkan. Mereka di awal-awal sekolah dianggap idiot oleh gurunya. Hal ini terjadi akibat pendidikan yang terlalu berorientasi kognitif. Itulah sebabnya kami menulis SHE.

Secara ringkas, SHE adalah proses pendidikan yang memanusiakan manusia (M. Natsir). Menurut Prof. Sam Ratulangi “Tugas manusia adalah memanusiakan manusia lainnya” (Tou sitou timou tou). Dan menurut hadits Rasulullah saw, sebaik-baik manusia adalah dia yang paling bermabfaat bagi orang lain (Khairunnas anfa’uhum linnas). Itulah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *